Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi sedang mengembangkan Lele
Sangkuriang varietas baru hasil persilangan antara lele dari Sungai Nil,
Afrika dengan lele Sangkuriang I guna menjaga kualitas genetik.
“Lele varietas baru ini kami namakan lele Sangkuriang II yang
merupakan pengembangan teknologi perikanan dari lele Sangkuriang I untuk
menjaga kualitas genetiknya,” kata Kepala BBPBAT Sukabumi, M Abduh
Nurhidayat, di Sukabumi, Minggu (5/2).
Lele Sangkuriang II ini merupakan perkawinan antara induk pejantan ke
VI lele Sangkuriang I dengan betina induk ke II lele dari Afrika.
Penelitian yang dilakukan oleh para ahli dalam beberapa tahun akhirnya
menghasilkan lele Sangkuriang II.
Kelebihan dari lele Sangkuriang II dibandingkan dengan lele
Sangkuriang I adalah masa panen pada pembesaran lebih cepat, pemijahan
yang menghasilkan telur lebih banyak, lebih tahan penyakit dan ukurannya
yang lebih besar.
“Bibit lele dari Afrika ini bisa mencapai 7 kg, dan diharapkan bisa
mengahasilkan keturunan yang berukuran besar dari hasil persilangan ini
dan ternyata benar kualitas anakan dari hasil pemijahan ini sangat
bekualitas dan bisa menjaga genetik ikan lele,” jelasnya.
Varietas baru ikan lele Sangkuriang ini kemudian dikembangkan dengan
uji coba multilokasi untuk mengetahui apakah lele ini bisa beradaptasi
dengan lokasi barunya yang tentunya kadar airnya berbeda. Lokasi yang
dijadikan tempat uji coba adalah Bogor-Jabar, Boyolali-Jateng, Gunung
Kidul-DI Yogyakarta dan Kepanjen-Jatim.
“Lokasi yang kami ambil untuk uji coba ini merupakan sentra ikan
lele, dan hasilnya sangat memuaskan walaupun di daerah berbeda kualitas
ikan lele ini tetap terjaga,” tambah Abduh. Dari hasil perhitungan
ukuran, lele Sangkurian II ternyata lebih besar dibandingkan generasi
sebelumnya atau lele Sangkuriang I, dan pertumbuhannya juga lebih cepat
10 persen.
Tujuan dikembangkannya varietas baru lele Sangkuriang ini karena
genetik dari lele dumbo yang merupakan cikal bakal induk lele
Sangkuriang kualitasnya terus menurun.
“Penurunan kualitas ini disebabkan oleh perkawinan sekerabat yang
menghasilkan benih yang kurang berkualitas dan penggunaan induk dengan
kualitas rendah,” katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar